Bagaimana kalau akhirnya bukan dia?
Sore itu ada yang pernah bilang ke saya, "Kamu bukan mutlak mau dia. Kamu mau orang yang sifatnya seperti dia. Kalau ada yang punya sifat sama seperti dia tapi orang lain, kamu mau?"
Saya langsung jawab, "Tidak." tanpa berpikir panjang.
Sebelumnya saya mau mengucapkan terima kasih untuk kamu yang selama ini menjadi support system saya, entah kamu sadar atau tidak. It has been more than 3 years.
Kalau ditanya awalnya, kenapa? Saya juga gatau.
Meskipun tulisan ini gaakan pernah sampai dibaca kamu. Bukan tipenya baca tulisan kaya gini tapi at least saya udah bikin tulisan ini sebagai tanda terima kasih. Kata Tsana, menjadikan orang yang disayangi menjadi tokoh utama dari suatu tulisan itu romantisnya to the next level. Cielah.
Saya coba deskripsikan kamu menurut saya aja ya. Menurut saya, kamu seorang pendengar yang baik, ini sifat yang paling saya suka dari kamu karena saya orang yang suka bercerita dan menuangkan pikiran saya entah dalam tulisan entah dalam kata - kata. Respon yang kamu berikan seringkali menenangkan saya & membuat saya kembali yakin "Saya bisa.".
Terus, kamu pintar. Saya sangat suka orang yang pintar. Bukan sebatas akademik, menurut saya kamu pintar dalam berbagai hal, intelektual, emosional, dan spiritual. Almost perfect.
Kamu berperan besar dalam hidup dan masa depan saya. Kenapa gitu? Ada masa - masa saya menyerah sama prodi yang saya ambil sekarang, jauh sebelum saya masuk tentunya saya pernah merasa jenuh belajar dan pengen menyerah aja trus tiba - tiba kamu kasih sesuatu yang bikin saya yakin "Semua orang bebas bermimpi, saya bisa kok masuk fakultas kedokteran impian saya."
Bahkan sampai saya sudah berada di sini, kamu tetep jadi support system nomor 1 setelah orang tua saya. Kamu salah satu alasan yang membuat saya malu bermalas - malasan terutama dalam hal belajar karena kamu super pandai. Motivator saya untuk selalu menjadi first taker. Terima kasih.
Tapi, ada kalanya juga saya jadi kalut sendiri dengan perasaan saya. Kamu sempat membuat saya tidak fokus dengan kuliah saya. Semakin kita dekat, semakin buat saya takut. Takut pada akhirnya kamu menjauh, takut kalau besok kamu berubah, dan ketakutan - ketakutan lain yang terus menghantui saya.
Pernah juga membuat saya tengkar dengan teman saya yang menasihati saya, "Tidak harus dia, Zizah. Kamu harus buka mata untuk orang - orang di sekitar yang mungkin sama baiknya dengan dia."
Bukan sekali dua kali atau satu dua orang berkata begitu, tapi respon saya kekeuh bodo amat brouu lu mau bilang apa, gua maunya dia. Idealis.:(. Saya pikir ini bukan lagi perasaan yang tulus. Saya takut semua ini malah menjadi obsesi saya. Mungkin lebih baik untuk dilepaskan.
Jujur, bagian ini adalah bagian yang paling saya takuti untuk dibahas. Pertanyaan yang jawabannya paling tidak mau saya tau.
"Bagaimana kalau akhirnya bukan dia?"
Saya sering ditanyai hal ini dan jawaban saya tegas, "Gamau." atau "Aku do'ain biar dia."
Si keras kepala kalau sudah membahas dia. Tapi, ada satu celah yang buat saya sadar. Mungkin kalau pada akhirnya bukan dia, saya akan kecewa berat, sakit hati, ini pilihan saya, tapi kan Allah bakal kasih yang lain dan tentunya lebih baik, masih gamau?
Padahal penggantinya ini akan super istimewa. Pilihan langsung dari Allah. Bukan lagi pilihan dari ABG labil yang baru berkepala dua beberapa bulan yang lalu.
Jadi, sudah ya, sampai di sini aja.
Rasanya senang sekali pernah menjadikan kamu orang yang saya prioritaskan nomor 1 setelah orang tua saya. Semoga kelak kamu mendapatkan perempuan terbaik di dunia ini karena kamu benar - benar pantas mendapatkannya.
Ke depan memang masih sangat jauh, entah pernikahan atau kematian yang menjemput duluan. Mungkin saya hanya belum siap dititipi perasaan ini pada waktu yang belum tepat.
Kalau sekarang ada yang tanya lagi, "Bagaimana kalau akhirnya bukan dia?"
Saya akan mulai mempersiapkan diri dari sekarang untuk menjawab, "Yaudah, insyaAllah gapapa.".
Tapi, kalau akhirnya tetap dia, gimana? Ya Allah, Alhamdulillah senang bukan kepalang ath wkwkwkwk
Btw, terima kasih banyak Hana. Nasihat pembuka yang pada akhirnya membuka pikiran dan hati saya. Percakapan sore hari itu di depan Ayam Gepuk Pak Gembus, Purwokerto.

Komentar
Posting Komentar