Teriakannya dibenci setiap yang dengar. Sayang, kehancuran dan keriuhan hatinya tak pernah ia teriakkan. Bersolek dan bermanja? Tak ada waktu untuk itu. Setiap waktu adalah waktu untuk orglain. Selalu kupertanyakan di mana air matanya bermuara. Pedih bukan lagi hal yang ia risaukan. Tak ada dirinya dalam prioritas hidupnya. Orang lain, orang lain, orang lain. Mengalah, mengalah, mengalah. Aku tak tau apa saja yang sudah ia alami hingga hatinya sekokoh ini, pintu maafnya selebar ini, dan kasihnya seputih ini.