Abu - abu
"Halo, Zah."
"Haloooo, ih lama banget ngga ngobrol. Ada apa ni telpon tumben?"
"Gimana kuliahnya, Zah?"
"Kangen kamu."
"Kenapa? Ada kesulitan sama kuliahnya? Sesuai yang kamu pengenin gak?"
"Hmm, aku bisa ngikutin kuliahnya, tapi aku belum bisa adaptasi sama lingkunganku."
"Lingkunganmu gimana?"
"Jelas beda banget sama SMA, aku ngerasa kaya jalan sendirian. Pengen balik SMA.", suara saya perlahan memelan.
"Gapapa, awal - awal emang gitu. Kalo kamu masuk lingkungan baru pasti perlu pinter - pinter adaptasi. Ngga akan ada lingkungan yang sama persis dari yang satu sama yang lain. Nikmatin prosesnya, nanti kamu juga bisa bertahan dengan caramu sendiri."
Percakapan sendu di sore itu, pulang kuliah di minggu pertama.
Hai. Selamat datang kembali di blog abal - abal.
Teringat betul betapa tidak nyamannya saya berada di lingkungan baru selama beberapa waktu pertama. Bising namun asing. Ada namun tiada. Setiap harinya saya habiskan sekadar untuk membunuh waktu dan memikirkan dengan keras bagaimana cara saya segera keluar dari lingkungan ini. Sayangnya ini baru minggu pertama, Zah. Akankah kamu melewati setiap harinya seperti ini untuk enam tahun ke depan? Seperti sebuah robot tanpa nyawa. Nyiksa? Banget. Motivasi awal saya nggak mau remedi; biar saya cepet lulus, gak banyak interaksi sama lingkungan. Seperti kata Winston Churchill, If you think you are going through hell, keep going. Okay, saya jalani sesuai rules itu.
Teringat betul betapa tidak nyamannya saya berada di lingkungan baru selama beberapa waktu pertama. Bising namun asing. Ada namun tiada. Setiap harinya saya habiskan sekadar untuk membunuh waktu dan memikirkan dengan keras bagaimana cara saya segera keluar dari lingkungan ini. Sayangnya ini baru minggu pertama, Zah. Akankah kamu melewati setiap harinya seperti ini untuk enam tahun ke depan? Seperti sebuah robot tanpa nyawa. Nyiksa? Banget. Motivasi awal saya nggak mau remedi; biar saya cepet lulus, gak banyak interaksi sama lingkungan. Seperti kata Winston Churchill, If you think you are going through hell, keep going. Okay, saya jalani sesuai rules itu.
Berdasarkan penilaian beberapa orang yang sudah saya kenal, kata mereka saya ini pandai bergaul. Kenyataannya? Saya sangat sulit menerima seseorang masuk kehidupan saya. Meskipun kesan luar saya haha hihi, suka bercanda, dan suka bergaul tetapi saya tidak pernah benar - benar mengizinkan seseorang masuk ke kehidupan saya dengan mudah. Butuh penyeleksian yang mendalam bagi saya. Bukan salah dari orang tersebut tetapi memang murni dari kemampuan adaptasi diri saya.
Beberapa minggu berganti minggu saya mendapati ada beberapa orang yang tidak menyukai saya. Bagaimana perasaan saya saat itu? Benci dan marah. Saya tidak merasa melewati lintasan mereka tetapi mereka menggores lintasan saya. Alih - alih introspeksi, kesalahan sepenuhnya saya limpahkan kepada mereka yang membenci saya. Saat lupa bahwa setiap yang saya lakukan akan menghasilkan respon dari lingkungan. Saya lupa belum paham bahwa yang beradaptasi bukan hanya saya tetapi semuanya. Pikiran saya pada saat itu, saya memasuki lingkungan baru, lingkungan mereka. Padahal yang sebenarnya terjadi adalah masing - masing dari kita masih meraba - raba mana tempat saya, mana tempat kamu, mana tempat dia, kitalah menciptakan lingkungan kita sendiri, setiap kepala turut andil di dalamnya, termasuk saya, kamu, dia, dan mereka.
Setelah beberapa bulan saya rasa sudah mulai bisa berperan dalam lingkungan ini. Tidak lama setelahnya saya mendapati bahwa lingkungan saya tidak baik dan saya berada di lingkungan yang salah. Awalnya saya menyangkal, saya rasa semuanya baik - baik saja. Setelah saya lihat satu per satu ternyata saya tidak benar - benar tahu seperti apa lingkungan saya. Lalu apa yang saya lakukan? Haruskah saya jauhi saja? Atau saya coba perbaiki? Tidak keduanya. Saya justu mencoba untuk mendekati dan mempelajari pribadi satu demi satu kepala. Cara ini sangat menguras waktu, tenaga, dan emosi. Di dalam perjalanan pembelajaran ini, saya bertemu seseorang dan saya mengatakan, "Setelah saya coba kenal satu per satu dari mereka, entah kenapa saya tidak bisa benci dengan mereka, rasanya setiap dari mereka memiliki satu alasan yang membuat saya untuk tetap berada di sisi mereka.", dengan pelan - pelan saya coba untuk menjelaskan maksud dari pikiran saya. Kemudian ia menjawab, "Paham kok, Zah. Kamu ngga akan bisa membenci lingkungan yang setiap harinya kamu hidup di dalamnya.". Saya tidak begitu memahami apakah ini respon yang baik atau tidak? Setidaknya saya sudah mencoba jujur dengan diri saya sendiri.
Semakin lama saya mengenal mereka rasanya saya menemukan warna baru. Abu - abu. Definisi abu - abu menurut saya sangat merepresentasikan lingkungan saya. Apakah itu artinya sesuatu yang kabur? Tidak jelas? Keraguan? Tidak. Bagi saya pribadi, abu - abu berarti keadaan di antara putih dan hitam, mereka berada di tengahnya. Setiap sikap seseorang memiliki alasannya sendiri, saya tidak akan membenarkan yang salah atau menyalahkan yang benar. Tetapi, satu yang akan saya lakukan, saya harus bisa menerima dan tahu bahwa si putih, benar dengan alasannya, si hitam juga salah dengan alasannya.
(Note: nama yang tertulis adalah nama samaran)
Kita hanya mencoba survive dengan cara kita masing - masing. Contoh Salima si gercep, selalu siap sedia merespon apapun baik dari dosen maupun teman sekelas, Hasna si rajin, selalu mencatat dengan rapi materi perkuliahan dan membagikannya kepada teman sekelas, Ayla si pendiam, yang muncul di grup seperti shalat ied, dua kali dalam setahun sampai bahkan kadang lupa dia ada di grup, Mufalih si ulet, sangat sabar dalam menyediakan sarana prasarana penunjang perkuliahan, rela menghabiskan waktunya berjam - jam untuk mengedit soal dan bahan kuliah, atau si Luqi yang muncul hanya saat membahas hal - hal tidak penting dan bercanda. Tidak ada standar yang benar dan salah tentang cara bertahan seseorang dalam lingkungan. Tidak bisa dihakimi semua orang harus seperti Salima atau dilarang seperti Luqi. Menurut saya semua sah - sah saja selagi tidak menggores lintasan yang lainnya. Saya si deadliner harus bisa terima dan men-cover kepanikan yang saya sendiri padahal teman - teman saya sudah leyeh - leyeh di hari itu. Ini risiko yang harus saya tanggung atas cara hidup saya sendiri. Saya tahu betul dan tidak akan menyalahkan orang lain yang sudah selesai jauh - jauh hari di atas sifat lelet saya. Mungkin ini hal yang sering kita lupakan, berani mengambil tindakan maka harus berani menerima konsekuensinya. Selain itu, ada satu hal yang mutlak; cara hidup kita jangan sampai merugikan orang lain. Hanya mengambil keuntungan tanpa ada kontribusi dan timbal balik. Hidup seperti itu adalah cara hidupnya parasit.
Jadi, kalau ditanya bagaimana sternum di mata saya? Saya masih belajar dan terus belajar untuk menerima kekompleksan yang ada and keep going. Perlahan saya coba untuk menitipkan rasa percaya ke mereka. Saya terus mencoba percaya bahwa mereka akan bertanggung jawab penuh atas sikap mereka dan saya juga percaya mereka dapat mempercayai saya. Karena dasar dari suatu hubungan harus ada kepercayaan, setelah itu baru timbul saling memiliki, saling menghormati dan saling melindungi.
Sebelum saya tutup, saya ingin mengucapkan terima kasih yang mendalam bagi orang - orang yang rela menghabiskan waktu, tenaga, dan pikirannya bagi sternum. Percayalah, calon pasien kalian bangga punya dokter seperti kalian.
Bye, selamat tidur lagi. Btw, post test anat apa kabar?
With love,
Azizah
Wkwkw bagus juga
BalasHapusterima kasih suhuuuuuu huwhwuwa
Hapus